Categories Histori

Menengok Sejarah Haji Kalsel (Bagian 1), Perjalanan yang Memerlukan Ketabahan

Bagi umat Islam, Ibadah Haji adalah penyempurna keislaman. Tentunya setelah empat kewajiban lain, (syahadat, shalat, puasa, dan zakat). Kendati, zakat dan haji merupakan ibadah yang menyaratkan kemampuan pelakunya. Karena itu berbeda dengan ibadah lainnya, menunaikan ibadah haji merupakan kewajiban ‘terberat’ dalam Islam. Apalagi haji dilakukan pada tempo dulu, yang masih menggunakan transportasi laut barupa kapal layar.

Sebagaimana yang dituturkan Hj Rodiah, ibadah haji di masa lampau lebih berat jika dibandingkan dengan masa sekarang. Kala itu, hanya orang yang ‘mampu’ lah yang bisa menunaikan haji ke tanah suci.

“Saat itu kami menyetor haji perorangnya 400 ribu rupiah. Sedangkan, kami berangkat berempat dengan ayah, H Abdul Ghani, ibu, Hj Syiah, dan adik, Hj Roqiah,” kata wanita dari Alalak Tengah yang telah menunaikan ibadah haji di tahun 1964 ini.

Di Tahun 1964, mata uang paling besar hanyalah sepuluh ribu rupiah. Bayangkan, berapa banyak uang yang dibawa keluarga H Abdul Ghani untuk mendaftar haji, mengingat ia harus membawa uang 1.600 ribu rupiah.

“Ya, karena waktu itu tidak secanggih sekarang dan tidak semua uang yang kami punya 10 ribuan, jadi uang yang terkumpul sangat banyak, uang itu hanya dibungkus dengan karung besar ketika ayah menyetorkannya ke Bank Indonesia,” kenangnya.

Sosok sang ayah, H Abdul Ghani adalah salah seorang pengusaha kaya dari Desa Alalak waktu itu. Usahanya berdagang kajang (yang terbuat dari daun nifah) dan tikar purun. Perdagangannya kala itu sudah merambah ke pulau jawa. Selain berdagang, ia juga menyewakan sebuah kapal tiung untuk jasa pengangkutan kayu. “Dari hasi usaha ayah itulah, kami sekeluarga bisa berangkat ke tanah suci,” ujarnya.

Di samping kemampuan finansial, berangkat haji di masa itu memerlukan ketabahan. Sebab, perjalanan menuju Makkah dari Kalsel membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan lamanya, karena perjalanan hanya dapat ditempuh dengan kapal laut.

“Seingat saya, perjalanan pergi-pulang lima sampai enam bulan lamanya. Berangkat di bulan Syawal dan datang di bulan Rabiul Awal,” kata Hj Rodiah.

Wanita yang sudah berumur 67 itu menuturkan, karena lamanya waktu, baik di perjalanan maupun selama di tanah suci, bawaan para calon haji pun seabrek-abrek. Seperti panci, beras, ikan asin, terasi, cabe, bawang, kerupuk, dan keperluan dapur lainnya. Maklum pada zaman “kuda gigi besi” barang dan makanan ini susah didapat di Negeri Saudi. Ditambah banyaknya perbekalan pakaian yang harus dipersiapkan para jamaah.

Belum lagi adanya kendala keamanan. Kafilah haji juga harus siap-siap akan kemungkinan menghadapi para bajak laut dan perompak di sepanjang perjalanan. “Semua barang, baik pakaian maupun rempah-rempah, dan senjata tajam dimasukkan ke dalam peti dari kayu yang kurang lebih berukuran 2 meter persegi,” kenang Wanita dari Alalak Tengah ini.

Begitu pun ancaman alam berupa topan, badai dan penyakit. Sehingga tak jarang ada jamaah yang kehabisan bekal atau terkena penyakit sebelum sampai di tanah suci.

“Yang jelas, jamaah harus merasakan pahit getirnya terombang-ambing di laut lepas. Pergi haji benar-benar sebuah perjalanan yang memerlukan ketabahan,” ujar wanita yang berangkat haji sewaktu berumur 20 tahun itu.

Karena beratnya menunaikan ibadah haji, mudah dimengerti bila kaum muslimin yang telah berhasil menjalankan rukun Islam kelima ini kemudian mendapatkan kedudukan tersendiri dan begitu terhormat dalam masyarakat di Banua.

Mereka pun kemudian mendapat gelar “Haji”, sebuah gelar yang umum disandang para hujjaj yang tinggal di negara-negara yang jauh dari Baitullah seperti Indonesia.

“Tempo dulu, seperti pada umumnya, jamaah dari Nusantara menggunakan kapal laut diperlukan waktu berbulan-bulan. Bahkan, memakan waktu bertahun-tahun, sebelum ditemukannya kapal uap pada 1920. Dengan kapal uap pun diperlukan waktu tiga sampai enam bulan baru kembali ke tanah air,” ujar Kabid Penyelenggara Haji Kanwil Kemenag Kalsel Drs H Syukeriansyah (saat berita ini ditulis).

Penulis: Muhammad Bulkini dan Lutfia Rahman

Editor: (Almarhum) Didi Gunawan

——————

Catatan: Tulisan ini pernah dimuat di koran Harian Media Kalimantan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *